Fatawa Puasa Bin Baaz (17): Hukum Menyiasati Agar Tidak Terkena Kaffaroh


2557_Mashroom_1

Pertanyaan dari Dammam: Suatu hari kami mengadakan majelis bersama beberapa teman, pembicaraan kami ketika itu seputar puasa dan pembatal-pembatal puasa. Ada seorang teman menyampaikan, bahwasanya dia mendengar temannya berkata, sesungguhnya seseorang yang berpuasa kalau sudah terpaksa ingin melakukan hubungan dengan isterinya di siang hari ramadhan, lalu dia berbuka terlebih dahulu dengan makan atau minum, maka dia tidak terkena kaffaroh yang diwajibkan bagi orang yang melakukan hubungan di siang hari ramadhan. Apakah yang diucapkan oleh orang ini benar? Narju al-ifadah

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz menjawab: Ini adalah ucapan yang batil, ucapan yang tidak benar. Kewajiban seorang muslim adalah mewaspadai perbuatan jimak pada siang hari ramadhan jika dia seorang yang mukim dan sehat. Demikian pula seorang wanita apabila dia sedang mukim dan sehat. Adapun seorang musafir, maka tidak mengapa dia melakukan hubungan dengan isterinya yang musafir juga. Demikian pula seorang yang sakit dengan isteri yang sakit jika keduanya kesulitan melakukan puasa. Wallahu waliyyu at-taufiq

 

One thought on “Fatawa Puasa Bin Baaz (17): Hukum Menyiasati Agar Tidak Terkena Kaffaroh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s