Al Halabi dan Keyakinan Barunya …. (bag:3)


Aqidah Sebagai Ukuran ke-salafiyah-an Seseorang

Walaupun Manhajnya Menyimpang ( 2 )

Lanjutan: >>

Para pembaca rahimakumullah…

Ali Hasan Al-Halabi, sosok muda yg banyak dikagumi disebabkan karya tulis, tahqiq, takhrij, dan karya2 lainnya.. hal itu membuat pandangan manusia menjadi gulita… seakan semua benak mengarah ketujuan yg sama, mungkinkah orang yang seperti itu kualitasnya terjatuh kepada kesalahan? Mungkinkah dia kan tergelincir? Atau barangkali para ulama’ kibar itu yg salah memahami? Berbusuk sangkah? Atau anggapan-anggapan lainnya… wallahul musta’an

Para pembaca rahimakumullah,

Sebelum membaca bagian kedua ini, jika anda belum membaca bagian yang pertama, maka kami tekankan untuk membacanya agar tidak salah dalam memahami.

>> Dengan inilah dapat diketahui kesalahan Al-Halabi dalam permasalahan ini; aqidah dan manhaj adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak boleh dipisahkan.

Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruktempat kembali.(QS. An-Nisa’:115)

Mengikut jalan kaum mukminin atau tidak mengikut jalan kaum mukminin adalah perkara yg sangat penting sekali, baik mengikuti atau meninggalkan. Siapa saja mengikuti jalan kaum mukminin maka dia lah orang yang sukses di sisi Rabbul ‘alamin, dan siapa saja menyelisihi jalan kaum mukminin, maka baginya jahannam dan ia adalah sejelek-jelek tempat kembali.” [ Fitnatu Takfir hal.53 ]

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Apabila suatu manhaj itu benar, maka pemiliknya termasuk menjadi ahli surga; jika dia berada di atas manhaj rasul dan manhaj salafus shalih maka dia akan menjadi ahli surga dengan ijin Allah. Tetapi jika dia di atas manhaj sesat maka dia mendapat ancaman dengan neraka. Jadi, ke shahihan manhaj dan tidaknya akan berakibat atasnya; surga atau neraka.” [ Al-Ajwibatul Mufidah 125 ]

Begitu pula Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri berkata, “Islam tersusun dari dua perkara ini, aqidah yg benar juga manhaj yang lurus dan selamat. Tidak boleh terpisah antara satu dengan yang lainnya. Siapa saja yg manhajnya rusak bisa dipastikan bahwa hal itu bersumber dari aqidahnya yang rusak. Jika sebuah aqidah bisa istiqamah di atas bentuk yg shahih, maka akan istiqamah pula manhajnya.” [ Al-Idhah wal Bayan fi Kasyfi ba’di Tharaiqi Firqatil Ikhwan ]

KETERANGAN:

Itulah keterangan para ulama’ kibar, bahwa manhaj dan aqidah adalah dua perkara yg saling terkait dalam islam dan tidak boleh dipisahkan. Seseorang yang aqidahnya benar hal itu bersumber dari manhajnya yang benar.. dan seseorang yang aqidahnya rusak hal itu bersumber dari manhajnya yang rusak…

Bandingkanlah dengan keyakinan baru Al-Halabi, bagaimana dia membedakan aqidah dan manhaj dari semua sisinya.. sehingga menurutnya, kerusakan sebuah manhaj tidak punya pengaruh apapun terhadap aqidah yg kokoh, dan kerusakan aqidah seseorang tidak punya pengaruh apapun tehadap manhaj yg kokoh…

Saudaraku. Bangunlah dari tidur nan panjang dan sadarlah … apa kiranya yg membuatmu terhalangi untuk menerima penjelasan para ulama’ kibar dan meninggalkan berbagai penyimpangan Al-Halabi?! Kekaguman? atokah….???

Saudaraku, renungkanlah… seandainya qo’idah-qo’idah al-halabi tersebut bersumber dari salaf… mengapakah para ulama’ kibar mengingkarinya?? Atokah Al-Halabi lebih mengerti ttg qo’idah salaf dibandingkan syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Ubaid, dan para masyayikh lainnya??

Catatan:

Saudaraku, apa yang kami torehkan ini adalah murni pernyataan para ulama’ kibar, bukan diambil dari saku usang si penulis… ketika para ulama’ telah menyebarkan fatwa mereka… ketika para masyayikh telah mencetak bantahan mereka… maka kewajiban kami adalah meneruskannya kpd kaum muslimin di bumi pertiwi ini…

Bukankah termasuk menyembunyikan ilmu, ketika para ulama’ telah menjelaskan suatu urusan umat, kita tidak menjelaskannya kpd umat? Padahal umat sangat butuh dgn penjelasan tersebut…

Ikuti terus serial seru berikutnya…. Penyimpangan fatal Ali Al-Halabi yg telah dibantah para ulama’ kibar….

9 thoughts on “Al Halabi dan Keyakinan Barunya …. (bag:3)

  1. assalamualaykum,

    Al ulama warasatul anbiya.

    sebagaimana diketahui bahwa menghukumi seseorang adalah dilihat al ashlu (hukum asalnya).
    Apalagi mentahzir ulama, antum cek dulu apakah dia dihukumi ahli bid’ah atau ahli sunnah. jika dia asalnya ahli sunnah atau ahli ilmu maka dia termaafkan dan diberi ganjaran walaupun dia salah dalam ijtihadnya.
    Berpikirlah seribu kali jika antum mentahzir ulama, karena antum secara tidak sadar menjuhkan umat dari ulama. ingatlah “daging ulama itu beracun”.
    Adapun sesama Ulama dalam mengkritik itu masalah biasa karena dalam lingkup ilmiah.
    lha antum khan bukan ulama koq ikut nimbrung dalam kancah dakwah sehingga membuat perpecahan sesama salafiah?beradablah sedikit antum terhadap ulama.
    apakah yang antum lakukan ini sudah sesuai dengan manhaj salaf?renungkan!!!!!
    apakah manhaj salaf mengajarkan yang demikian dalam adab terhadap ulama?
    Kenapa antum tidak juga mentahzir Ibnu Hajar karena beliau Rahimahullah punya penyimpangan juga dalam masalah aqidah?
    bukankah Ibnu Hajar adalah asalnya ulama/ahli ilmu sehingga termaafkan dan diberi ganjaran?

    wasallam.

    –admin–
    Ucapan anda kelihatannya manis.. tetapi:

    1. Apakah ada ulama’ didepan anda?
    2. Apakah yg saya sampaikan ini adalah bantahan saya pribadi ato penjelasan para ulama’?
    3. Apakah antum menyamakan Ibnu Hajar dgn Ali Hasan?

    Kemudian, apakah anda sudah membaca dgn benar tulisan saya itu? bukankah itu dari para ulama dan bukan dari warisansalaf.wordpress sendiri?

    “daging ulama’ itu beracun” ya itu benar, dan itulah yg menimpah ali hasan al-halaby ketika menghinakan para ulama’ kibar…. ikuti terus penjelasan kami

    Suka

  2. assalamualaykum,

    sebagai nasehat, antum lihat di kitab tauhid bab 1 dalam hadist terakhir ketika Rasulullah alaihi shalatu wassallam berkata kepada Muadz. “Wahai Muadz, apakah haq Allah kepada Hambanya dan apakah Haq Hamba kepada Allah?, maka Muadz menjawab : Allahu wa rasuluhu ‘alam. Hak Allah kepada Hambanya adalah mentauhidkannya sedangkan hak Hamba kepada Allah adalah allah tidak mengazabnya bagi hamba yang bertauhid. kemudian Muadz berkata :apakah aku berikan kabar kepada manusia mengenai ini?maka Nabi alaihi shalatu wassallam berkata : la tubasiruhum/janganlah engkau menceritakannya”. subhannallah, apakah masalah tauhid bukankah hal yang paling penting?namun Nabi memerintahkan Muadz Radhiallahu anhu untuk tidak memberitakannya kepada Muaz, shg takut manusia akan bersantai menyandarkan kepada berita ini. Renungkan!!!.apakah semua yang kita ketahui harus kita sampaikan Akhi?apalgi ini berkenaan dengan Ulama Ahlu sunnnah?bantahlah hadist Nabi ini?

    wassalalm.

    —admin—
    Bagaimana saya akan membantah hadits nabi, tetapi ada beberapa hal:

    1. Akh, anda harus tahu pula kelengkapan kisah mu’adz tentang hadits ini… mungkin anda belum tahu atau barangkali lupa, bukankah di akhir hayat Mu’adz menyampaikan hadits tersebut? sehingga dengan itu anda bisa membacanya di kitab para ulama’, seandainya hadits tersebut tidak disebutkan oleh mu’adz, mana mungkin ada di kitab tauhid… bukankah di akhir riwayat hadits tersebut dikatakan :
    “فَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا”
    “Maka Mu’adz pun menceritakan hadits tersebut ketika akan meninggal karena khawatir (berdosa telah menyembunyikan ilmu”

    2. Anda harus membedakan antara hal yg harus disampaikan dan yang tidak… semua itu yg menimbang adalah para ulama’… dan apa yang saya sampaikan ini sudah disampaikan oleh para ulama’ kibar semacam lanjah daimah, syaikh shalih al-fauzan dan lainnya.. apakah mrk tdk tahu hadits tersebut? ato tdk bisa mempraktikannya? atooo????
    .

    Suka

    • Barakallahu fikum Admin

      berikut sanjungan para Ulama terhadap Syaikh.
      semoga bermanfaat untuk melembutkan hati antum. ingat ghibah terhadap Ulama dosanya jauh lebih besar terhadap orang biasa,

      Biografi Singkat
      Syaikh Ali Bin Hasan al-Halabi al-Atsari –حفظه الله-
      Oleh: Muhammad Sulhan Jauhari

      “Para ulama dan imam agama ini senantiasa menjelaskan tipu daya setan dan memperingatkan umat dari kesesatan. Oleh sebab itu mereka menulis karya-karya tulisan, sehingga dapat dipetik faedahnya oleh generasi dahulu dan akan diambil oleh generasi yang akan datang”[1].
      Nasab
      Beliau adalah seorang Syaikh salafi, pengarang kitab-kitab manhaj dan peneliti kitab-kitab ilmiah, nasab Beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid, Abul Harits, penisbatan Beliau adalah al-Halabi, adapun tempat hijrahnya adalah Yordania.
      Ayah dan kakek Syaikh Ali hijrah dari kota Yafa, Palestina menuju Yordania pada tahun 1368 H (1948 M), karena adanya peperangan yang dikobarkan oleh zionis Yahudi.
      Tempat & Tahun Kelahiran
      Syaikh Ali al-Halabi dilahirkan di kota az-Zarqâ’ Yordania pada tanggal 29 Jumadil Ula tahun 1380 H.
      PendidikanSyaikh berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat atas dengan sukses pada tahun 1398 H (1978 M). Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya ke fakultas Bahasa Arab di Amman, untuk mempelajari cabang ilmu bisnis dan akuntansi, akan tetapi Allah tidak menakdirkan kepada Beliau untuk menyelesaikan kuliahnya tersebut.
      Guru
      Syaikh memulai menuntut ilmu agama sekitar seperempat abad yang lalu. Dan Beliau mengambil ilmu ini dari banyak guru. Berikut diantara guru Beliau yang terkemuka:· Al-’Allâmah, Ahli hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v.
      Beliau bertemu dengan Syaikh al-Albani pada akhir tahun 1977 M di kota Amman. Dan pada tahun 1981 M Beliau belajar dari Syaikh al-Albani kitab Isykâlât al-Bâ’its al-Hatsîts dan beberapa kitab lainnya.
      · Pakar bahasa, Syaikh Abdulwadud az-Zarori v,
      · Juga Syaikh yang mulia Muhammad Nasib ar-Rifa’i, dan beberapa ulama lainnya.

      Surat Izin Mengajar
      Syaikh Ali mendapatkan ijazah ilmiah untuk mengajarkan ilmu agama, khususnya dalam bidang ilmu hadits dari beberapa ulama, selain dari ketiga Syaikh yang telah kami sebutkan di atas. Mereka adalah:
      o Al-’Allâmah Syaikh Badi’ud Din as-Sindi.
      o Al-’Allâmah Syaikh Muhibbullah ar-Rasyidi.
      o Al-’Allâmah Syaikh ‘Atha’ullah Hanif al-Fujiyani, dan
      o Ahli hadits Syaikh Hammad al-Anshari v.
      Sanjungan & Pujian
      Begitu banyak ulama yang mengalamatkan sanjungan kepada Beliau, diantara mereka adalah Syaikh al-Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Muqbil bin Hadi v, Syaikh Abdulmuhsin al-’Abbad, dan ulama-ulama lainnya. Dan di sini, kami akan lampirkan tiga sanjungan ulama terhadap Syaikh.

      1. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v.
      Sebagaimana yang Beliau utarakan dalam kitabnya yang agung, ash-Shahîhah, pada pertengahan penjelasan Beliau tentang dusta-dusta si pencela sunnah, Hassan Abdulmannan. Beliau berkata seraya memujinya: Penjabaran perkataan untuk menjelaskan cacatnya ucapan (Hassan) yang telah melemahkan hadits-hadits tersebut di atas, semua itu membutuhkan disusunnya sebuah kitab khusus, dan untuk mencapai hal itu waktuku tidak cukup, semoga saja sebagian saudara kita yang kuat-kuat seperti saudara Ali al-Halabi mampu melaksanakan tugas ini.
      Coba perhatikan juga muqaddimah kitab at-Ta’lîqât ar-Radhiyyah ‘Alâ ar-Raudhah an-Nadhiyyah, Âdâb az-Zifâf cetakan al-Maktabah al-Islâmiyyah, dan kitab an-Nashîhah.
      2. Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i v.
      Begitu pula al-Allamah ahli hadits Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i v dalam kitabnya Tuhfah al-Mujîb ‘alâ As`ilah al-Hâdhir wa al-Gharîb, hlm 160, Beliau ditanya: Siapakah para ulama yang anda nasehatkan kami untuk merujuk kepada mereka dan membaca buku-buku karya mereka serta mendengarkan kaset-kaset mereka?Syaikh menjawab: Sesungguhnya kami telah membahas hal yang satu ini berulang kali, akan tetapi tak apa kita mengulanginya sekali lagi. Diantara mereka adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani v, dan murid-murid Beliau yang mulia, semisal saudara Ali bin Hasan bin Abdulhamid, saudara Salim al-Hilali, saudara Masyhur bin Hasan v.
      Beliau juga bertutur: Dan setelah itu saya melihat sebuah artikel begitu berharga yang berjudul Fihq al-Wâqi’ baina an-Nazhariyyah wa ath-Thathbîq, buah karya saudara kami seakidah Ali bin Hasan bin Abdulhamid حفظه الله, kami nasehatkan kepada kalian untuk dapat memiliki dan membacanya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
      Dan Beliau telah menyebutkan artikel tersebut dalam sebuah kasetnya yang berjudul Ghârah al-Asyrithah ‘alâ Ahli al-Jahl wa as-Safsathah, Beliau berkata seraya mensifati artikel tersebut: Aku tidak mengetahui ada yang menandinginya sama sekali.
      3. Syaikh Abdulmuhsin al-’Abbad حفظه الله.Begitu pula Syaikh Abdulmuhsin al-’Abbad al-Badr حفظه الله. Beliau berkata dalam kitabnya yang begitu bermanfaat dan bagus, Rifqan Ahla as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, hlm 8-9, cetakan 1426 H: Dan saya petuahkan juga, hendaknya para penuntut ilmu di setiap negeri menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dari ulama ahlus sunnah yang ada pada negeri yang bersangkutan, semisal murid-murid Syaikh al-Albani v di Yordania, yang mana sepeninggal Syaikh al-Albani mereka mendirikan markaz dengan nama Beliau (markaz Syaikh al-Albani v).
      Hubungan Syaikh dan Mahad Ali Bin Abi Thalib Surabaya
      Alhamdulillâh, telah terjalin hubungan baik antara Syaikh Ali khususnya, dan Ulama Yordania lainnya umumnya, dengan Ma’had Ali bin Abi Thalib Surabaya. Hal itu dapat kita ketahui bersama dengan diselenggarakannya Dauroh-dauroh Syar’iyyah oleh Ma’had Ali dengan mendatangkan mereka sebagai pembicara. Terhitung sudah lima kali Mereka –Masyayikh Yordania- berkunjung ke kota Surabaya dalam rangka mempererat hubungan silaturrahmi dan memberikan siraman ilmu di dauroh-dauroh tersebut.

      Syaikh Ali juga begitu dekat dengan asâtidzah (jamak ustadz) Surabaya dan asâtidzah Indonesia lainnya. Namun –sepengetahuan penulis-, Ustadz Indonesia yang paling dekat dengan Syaikh Ali adalah Ustadz kami Abu ‘Auf Abdurrahman bin Abdulkarim at-Tamimi حفظه الله. Abu ‘Auf pernah bercerita di hadapan kami, bahwa Syaikh Ali begitu sering saling kirim SMS dengannya. Bahkan Ia pernah berkata, lebih dari seribu SMS yang pernah Syaikh Layangkan kepadanya. Abu ‘Auf sempat menulis delapan ratus lebih SMS dari Syaikh, yang kemudian Beliau tulis dengan tangannya di dua buku tulis. Adapun sisanya, sengaja Beliau tidak dokumentasikan.

      Selain itu, pada tahun 1425 H (2004 M) Abu ‘Auf pernah diundang ke Yordania sebagai utusan dari Indonesia, untuk menyampaikan ceramah pada acara seminar di Markaz Imam al-Albani. Dan pada waktu itu, yang menyampaikan ceramah pada seminar itu ada sebelas orang –selain dari Abu ‘Auf-. Mereka adalah, Syaikh Salim bin Ied al-Hilali, Syaikh Muhammad Musa, Syaikh Ali al-Halabi, Syaikh Husain bin ‘Audah al-’Awaisyah, Syaikh Basim bin Faishol al-Jawabiroh, mereka semua berasal dari Yordania. Syaikh Utsman al-Khumayyis dan DR. Hamd al-Utsmani, keduanya dari Kuwait, DR. Muhammad al-Khumayyis dan Syaikh Abdullah al-’Ubailan, keduanya dari Arab Saudi, Syaikh DR. Khalid al-Anbari dari Uni Emirat Arab, dan Syaikh Hisyam al-’Arif dari Palestina.

      Syaikh Ali juga pernah menyusun syair yang berjumlah dua puluh satu bait, yang Beliau utarakan pada penutupan Dauroh Syar’iyyah pertama pada tahun 1421 H. diantara kutipannya:

      فَالشُّكْرُ كُلَّ الشُّكْرِ نَحْوَ شُعُوْرِهِمْ تِلْكَ المَــحَبَّةُ مِنْهَمُ بِأَمَــانِأَمَّا كَبِـيْرُ الجُهْدِ ذَاكَ بِحِـرْصِهِ هَذَا التَّمِيْمِيُّ عَبْدُ ذَا الرَّحْــمَنِMaka limpahan ucapan terima kasih teruntuk mereka
      Inilah rasa kasih cinta dengan keamanan dari mereka
      Adapun dia yang semangat dan begitu antusiasnya
      Itulah Abdurrahman yang at-Tamimi menjadi nasabnya
      Aktivitas
      Syaikh Ali حفظه الله termasuk orang pertama yang ikut andil dalam mendirikan majalah al-Asholahyang terbit di Yordania, termasuk penulis tetapnya, dan merupakan pemimpin redaksinya. Dan majalah tersebut hingga saat ini telah terbit sebanyak lima puluh edisi dalam masa lebih dari sepuluh tahun.Beliau begitu rajin menulis makalah-makalah dan bahasan-bahasan yang beraneka ragam pada sejumlah surat kabar, majalah Arab Saudi, dan majalah internasional, yang diantaranya adalah makalah mingguan pada surat kabar dalam negeri al-Muslimûn, yang terbit di London di kolom as-Sunnah. Pada majalah tersebut Beliau terus-menurus menulis kira-kira selama dua tahun lamanya, terhitung sejak tanggal 18 Rabi’ul Awal 1417 H.
      Syaikh Ali حفظه الله juga berkali-kali ikut serta dalam muktamar-muktamar islam, petemuan-petemuan dakwah, seminar-seminar ilmiah pada sejumlah negara, diantaranya adalah di Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait, Amerika, Inggris, Belanda, Hongaria, Kanada, Indonesia, Perancis, Kosovo, dan beberapa Negara lainnya.
      Syaikh pun pernah diundang ke sejumlah Universitas Yordania untuk menyampaikan kajian dan seminar, seperti di Universitas Yordania, Universitas Yarmuk, dan Universitas Zaitunah.
      Karya & Tulisan
      Kitab-kitab karangan
      Adapun karya tulisan dan kitab-kitab yang Beliau teliti jumlahnya mendekati dua ratus kitab, baik berupa artikel, sebuah kitab, maupun yang kitab berjilid-jilid jumlahnya.
      Dan diantara karangan yang paling penting adalah kitab:
      – Ilmu Ushûl al-Bida’,
      – Dirâsât Ilmiyyah fî Shahîh Muslim,
      – Ru’yah Wâqi’iyyah fî al-Manhaj ad-Da’awiyyah,
      – An-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhor,
      – Ahkâm asy-Syitâ` fî as-Sunnah al-Muthahharoh,
      – Ahkâm al-’Iedain fî as-Sunnah al-Muthahharoh,
      – At-Ta’lîqât al-Atsariyyah ‘alâ al-Manzhûmah al-Baiqûniyyah,
      – Ad-Da’wah ila Allah baina at-Tajammu’ al-Hizbi wa at-Ta’âwun asy-Syar’i,
      – At-Tabshir bi Qawâ’id at-Takfîr, dll.
      Kitab-kitab tahqiq
      Adapun dalam bidang tahqiq/penelitian, maka kitab-kitab yang Beliau tahqiq begitu beragam, seperti:
      – Hidâyah ar-Ruwât fî Takhrîj Ahâdîts al-Mashâbîh wa al-Misykât karya Ibnu Hajar sejumlah lima jilid,
      – As-Sunan karya Ibnu Majah dalam empat jilid,
      – Miftâh Dar as-Sa’âdah karya Ibnul Qayyim sebanyak tiga jilid,
      – Ighâtsah al-Lahafân fî Mashâyid asy-Syaithân karya Ibnul Qayyim dalam dua jilid,
      – At-Ta’lîqât ar-Radhiyyah ‘alâ ar-Raudhah an-Nadiyyah karya al-Albani dalam tiga jilid,
      – Al-Bâ’its al-Hatsîts karya Ibnu Katsir sebanyak dua jilid,- Al-Hittah fî Dzikr ash-Shihâh as-Sittah karya Shiddiq Hasan Khan sebanyak satu jilid,
      – Ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ karya Ibnul Qayyim sebanyak satu jilid,
      – Al-Mutawârî ‘alâ Abwâb al-Bukhâri karya Ibnul Munayyir satu jilid, dll.

      Sebagian kitab dan karangan Syaikh Ali al-Halabi telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, diantaranya ke dalam bahasa Ingris, Perancia, Ordo, Indonesia, Adzarbaijan, dan bahasa Kosovo.
      Beliau senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, bertawakal hanya kepada-Nya, tekun di atas ilmu, dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya. Juga dalam menulis dan meneliti kitab-kitab, berdakwah kepada Allah semata seraya memohon kepada Rabb-Nya ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih, keikhlasan, ketegaran, dan hushul khâtimah (kesudahan yang baik).
      Syaikh Ali & Syair
      Bak Imam asy-Syafi’i, Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v, Syaikh Ali juga sangat cinta dan hobi menyusun syair. Terbukti dari beberapa karya yang ia lontarkan hampir pada setiap Dauroh Syari’yyah Manhajiyyah yang secara rutin setiap tahun -walhamdulillâh- dilaksanakan oleh Ma’had Ali bin Abi Thalib[2]. Selain dari beberapa syair yang ia sampaikan pada penutupan dauroh tersebut, jauh sebelumnya Syaikh juga pernah menyusun beberapa bait syair ritsâ`[3] tatkala guru tercintanya, Syaikh al-Albani v, meninggal dunia[4]. Semoga Allah senantiasa membuka hati Syaikh untuk mendapatkan ide-ide cemerlang, kata-kata bijak, dan pemikiran-pemikiran apik dalam rangka memberikan sumbangsih kepada agama ini lewat bait-bait syair yang ia susun.

      Berikut, kami akan sisipkan cupikan beberapa bait syair karya murni Beliau, pada beberapa tema.
      Syair Nasehat
      Syair ini Beliau sampaikan pada penutupan Dauroh ke VIII di Trawas 1428 H. Jumlah keseluruhan syair ini adalah empat belas bait. Diantara kutipannya:

      اِلْزَمْ أُخَيَّ لِنَهْجِ أَسْـلاَفٍ مَضَوْا اِنْفِذْ طَرِيْقَ الحَقِّ أَنْتَ غََرِيْــبُوَعَلَيْكَ بِالْعِلْمِ الشَّرِيْفِ سَـلاَمَةً فَـالجَهْلُ دَاءٌ وَ العَلِيْمُ طَبِــيْبُWahai saudaraku, genggamlah erat manhaj salaf umat ini
      Laksanakan jalan kebenaran, engkau kan semakin asing
      Wajib oleh kalian menuntut ilmu mulia demi keselamatan
      Sebab bodoh adalah racun dan ulama adalah dokter kesembuhan
      Beliau juga berkata:

      وَ انْظُرْ أُخَيَّ إِلَى الحَيَاةِ بِبَسْـمَةٍ لاَ لَسْتُ أَرْضَاكَ بِـذَاكَ كَئِيْـبُوَدَعِ التَّهَاجُرَ وَ التَّخَاصُمَ إِنَّـهُ بَابٌ إِلَى كَسْرِ القُلُوْبِ رَهِيْــبُWahai saudaraku, sambutlah hidup ini dengan senyuman
      Tidak, aku tidak rela engkau terjerumus dalam penderitaan
      Tinggalkan sikap saling tidak tegur sapa dan bermusuhan
      Sebab itu adalah pintu penghancur hati yang menakutkan
      Syair PembelaanMaksudnya, pembelaan terhadap Rasulullah n tatkala dicela oleh orang kafir Denmark –semoga Allah melaknatnya-. Jumlah total syair ini ada dua puluh empat bait[5]. Namun, kami akan menyebutkan beberapa bait sebagai cuplikan dari syair tersebut. Beliau berkata:
      مَاذَا نَرَى (دِنْمَرْكُ) فِي رَسَّامِكُمْ إِلاَّ خَبِيْـثاً مَارِقاً يَتَجَلْـمَدُ ؟ !
      قَالُوْا: الفُنُوْنُ؛ فَمَاالفُنُوْنُ وَحَالُهُمْ إِلاَّ كَمَنْ لَقِيَ الحَقِيْقَةَ يَجْحَدُ ! !
      أَمَّا التَحَرُّرُ –زَاعِـمِيْنَ لِفِعْلِهِمْ- فَهُوَ التَّحَرُّرُ كَاذِبٌ وَ مُعَانِــدُApa yang kami lihat, wahai Denmark, pada gambar karikaturmu
      Hanyalah tindakan buruk, jauh dari agama yang kian membatu
      Mereka berseru, “Inilah Seni”, sedang seni dan kondisi mereka
      Tidak lain bagaikan penolak kebenaran lagi ingkar hatinya
      Adapun alasan “Kebebasan Berbicara” yang mereka gemborkan
      Maka itu adalah kebebasan penuh dusta yang berisi penentangan
      Syair Sifat & Pujian
      Pada syair yang sama, Syaikh Ali juga menyebutkan beberapa karateristik yang dimiliki oleh Nabi Muhammad n. Syaikh berkata seraya menyebutkan beberapa sifat Beliau n:

      صَلَّـى عَلَيْـهِ اللّهُ في قُرْآنِـهِ فَثَنَــاؤُهُ بِصَلاتَِهِ يَتَجَــدَّدُمَـَلأَ العَوَالِمَ ( أَمْنُهُ إِيْمَـانُهُ ) هٰذَا (السَّـلاَمُ) بِنَهْجِهِ يَتَأَكَّـدُ
      هٰذَا الَّذِيْ وَسِعَ البَرَايَا رَحْـمَةً هٰذَا الرَّؤُوْفُ هُوَالرَّحِيْمُ الأَرْشَدُAllah Ta’ala bersholawat kepadanya dalam al-Quran
      Sanjungan dan sholawat-Nya kepada Beliau ditujukan
      Keamanan dan keimanan memenuhi alam semesta
      Keselamatan kian pasti dengan mengikuti manhajnya
      Dialah Nabi pembawa rahmat bagi alam semesta
      Yang amat belas kasih, penyayang dan lurus jalannya
      Kata penutupInilah biografi singkat dari seorang Da’i besar, ‘Alim, al-’Allâmah, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari حفظه الله. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin yang membacanya. Amin.
      Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 41 hal. 44-50

      ——————————————————————————–

      [1] Kutipan kata Syaikh Ali Hasan al-Halabi. Lihat kitab Mawârid al-Amân al-Muntaqâ min Ighâtsah al-Lahafân fî Mashâyid asy-Syaithân, hlm 8.
      [2] Yang sebelumnya bernama Ma’had Ali al-Irsyad as-Salafi Surabaya.
      [3] Syair duka cita yang ditujukan kepada orang tertentu tatkala wafatnya.
      [4] Buku kecil yang berisi bait-bait syair tentang Syaikh al-Albani v tersebut beliau beri judul al-Manzhûmah an-Nûniyyah. Ringkasnya, buku tersebut mencakup bait-bait syair tentang kehidupan Syaikh al-Albani v, dimulai dari kelahiran hingga setelah wafatnya beliau. Disertai juga dengan penyebutan karya-karya dan murid-murid beliau, serta sanjungan ulama dunia terhadap keilmuan Syaikh al-Albani. Semua itu Syaikh Ali Hasan utarakan dalam bentuk bait syair dengan jumlah lima puluh halaman. Buku ini dicetak tanpa disebutkan nama penerbit dan tahun penerbitannya.
      [5] Syair tersebut beliau susun di waktu ashar hari Jum’at 22 Shafar 1429 H.

      —admin—
      Kalau pujian para ulama’ membuat seseorang makshum, tentu begitu banyak orang menyimpang yang dianggap di atas sunnah…
      Pujian para ulama’ seperti Syaikh Al-Bani dan lainnya, bukankah sebelum Ali Hasan di tahdzir.. dan sebelum keluar dari Ali Hasan penyimpangan2… atau juga bisa jadi karena para ulama’ tersebut tidak mengetahui hakekat Ali Hasan…

      wallahul musta’an

      Suka

  3. Bismillah, penyimpangan alhalaby ini sebagai definisi sebab dari semua keanehan manhaj para du’at hizby dinegri ini semisal assofwah, atturots, dan alirsyad. sehingga tak heran jika mereka selain mengundang para ulama’ salafy pun mengundang ulama’ hizby semisal abdurrahman abdul kholiq, syarif hazza, adduwaishy,juga alialhalaby, yang penting seolah aqidahnya masih salafy tak perduli manhajnya apa, hampir atau memang bentuk lain dari prinsip da’wah IM nata’awan fii man tafaqna wa na’tadziru ba’dhuhu ba’dhon fi makh talafna, hinggapun jika mereka sanggup mendatangkan para ulama’ salafy itu tak membuat salafyun silau, adapun kemashlahatan da’wah akan terwujud dengan apa yang mencocoki jalan da’wah yg haq bukan dengan menghalalkan segala cara. Barokallahufiikum.

    Suka

  4. Bismillah
    Assalamu’alikum warohmatullahi wabarokatuh..
    Membaca artikel diatas ana sangat antusias untuk mengikutinya mengingatnya hal tersebut, dan sesuai dengan janji antum di akhir tulisan:

    Ikuti terus serial seru berikutnya…. Penyimpangan fatal Ali Al-Halabi yg telah dibantah para ulama’ kibar….

    Mohon agar artikel tersebut bisa berlanjut kembali, karena begitu sangat pentingnya artikel tersebut untuk dapat dibaca khususnya salafiyyin ditengah badai fitnah ini.

    atas perhatiannya ana ucapkan jazakumullahu khairon katsiron wa barokallahu fiikum.

    Suka

  5. TERNYATA “SYAIKH RODJA” AL-‘AARIFY ADALAH SEORANG IKHWANY… WA NA ‘UUDZUBILLAAHI MINAL HIZBIYYAAH
    (www.tukpencarialhaq.com)

    Suka

  6. Assalamualaikum Akh, sepertinya ada yang kurang antum juga harus menyebutkan definisi Aqidah dan Manhaj menurut syaikh Ali berikut sumbernya, karena kita tetap harus berlaku Jujur dan Adil dalam setiap permasalahan

    Suka

Komentar ditutup.