Nasehat dan Tahdzir Lajnah Daimah lil Ifta’ (Komite Fatwa) Arab Saudi kepada Ali Hasan Al-Halabi


Sekarang simak bersama nasehat dan tahdzir

LAJNAH DA’IMAH

LIL BUHUTS WAL IFTA’

(Komite Fatwa Arab Saudi)

Yang tergabung didalamnya para ulama’ senior dan diketuai oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh Hafizhahullah Ta’ala.

————————————–

Wahai kiranya apa lagi yang mereka tunggu…..

Bukankah para ulama’ kibar telah bersikap?

Bukankah para ulama’ senior telah angkat suara?

Bukankah para ulama’ yang telah berambut dan berjenggot putih telah menyingkap?

ya, mereka telah bersikap, angkat suara, dan menyingkap talbis dan kesesatan serta penyimpangan Ali Hasan Al-Halabi…..

Ya Allah, hilangkanlah dari hati-hati kami sikap mengikut tanpa ilmu…

Para pembaca rahimakumullah, sudah kita simak pada beberapa pertemuan lalu penjelasan para masyayikh Ahlussunnah tentang hakekat keadaan Ali Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi …..

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul, Asy-Syaikh Muhammad Bazmul, Asy-Syaikh Usamah Athoyah, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, dan juga Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi….

Mereka semua telah berbicara tentang Ali Hasan Al-Halabi.

Sekarang, mari kita lihat dan simak kualitas keilmuan Al-Halabi yang tertuang dalam kitabnya, dengan itu kita akan tahu bahwa penyimpangan-penyimpangan Al-Halabi memang sudah lama dan tampak.

At-Tahdzir min Fitnati At-Takfiir, itulah judul buku karangan Ali Al-Halabi yang banyak dibanggakan beberapa kalangan…

Mari simak pernyataan para ulama’ kita tentang kitabnya itu…, Para Ulama’ Kibar yang tergabung dalam AL-LAJNAH AD-DAIMAH LIL IFTA’ WAL BUHUTS (KOMITE FATWA ARAB SAUDI) yang dikepalai oleh:

  1. Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh Hafizhahullah

dan beranggotakan:

  1. Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan Rahimahullah
  2. Asy-Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid Rahimahullah
  3. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala

Pembaca rahimakumullah, sebelumnya kami ingatkan bahwa fatwa ini dikeluarkan pada tanggal 14 / 6 / 1421 H yaitu sekitar 10 tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa Al-Halabi telah mengalami pergeseran aqidah dan manhaj sejak beberapa tahun lamanya, hanyasaja para ulama’ terus berusaha menasehatinya dan bersabar atasnya…

Fatwa Lajnah:

Setelah menyebutkan pendahuluan dan beberapa keterangan, lanjah mengatakan:

“Dan setelah Al-Lajnah mempelajari dua kitab tersebut (yaitu kitab At-Tahdzir min Fitnati At-Takfir dan Shaihatu nadzir karya Ali Hasan Al-Halabi) dan mendalaminya, maka menjadi jelaslah bagi Lajnah bahwa kitab At-Tahdzir min Fitnati At-Takfir yang ditulis oleh Ali Hasan Al-Halabi dan ia menukilkan pernyataan para ulama’ di muqoddimah dan catatan kaki, mengandung hal-hal berikut:

  1. Penulis membangun (tulisannya itu) di atas madzhab murji’ah yang bid’ah lagi bathil. yaitu mereka yang membatasi kekufuran hanya sebatas kufur pengingkaran, pendustaan, dan penghalalan hati. Sebagaimana terdapat pada halaman 6 catatan kaki ke 2 dan halaman 22. Pernyataannya ini bertentangan dengan apa yang Ahlussunnah wal Jama’ah berada di atasnya, yaitu bahwa kufur bisa terjadi dengan keyakinan, ucapan, perbuatan, dan keraguan.
  2. tahrifnya (membelokkan maksud) dalam menukil dari Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan Nihayah 13/18. Dimana ia menyebutkan pada catatan kakinya halaman 15 menukil dari Ibnu katsir: Bahwa Genghis Khan mengklaim tentang (Qanun) Yasiq berasal dari Allah dan bahwa inilah sebab kekufuran mereka.” Ternyata ketika di ruju’ ke referensi yang telah disebutkan tidak didapatkan padanya apa yang ia nisbahkan kepada Ibnu katsir rahimahullah Ta’ala.
  3. Taqowwulnya (Bualan dan ucapan dusta) atas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta’ala pada halaman 17-18, dimana penyusun kitab tersebut menisbahkan kepada beliau (Ibnu Taimiyah) bahwa hukum pengganti menurut Syaikhul Islam tidak kufur kecuali jika didasari ma’rifah, keyakinan, dan penghalalan. Ini murni kebohongan atas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta’ala, beliau adapah penebar madzhab salaf ahlussunnah wal jama’ah dan madzhab mereka. seperti yang telah lalu,  dan ini tidak lain adalah madzhab murji’ah.
  4. Tahfirnya (membelokkan) maksud Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah Ta’ala dalam risalahnya: Tahkimul Qawanin Al-Wadh’iyah. Dimana penyusun kitab tersebut (Ali Al-Halabi) mengira bahwa Syaikh mensyaratkan penghalalan hati, padahal ucapan Syaikh amat jelas seperti jelasnya matahari -pada tulisannya tersebut- diatas (manhaj) ahlus sunnah wal jama’ah sejati.
  5. Ta’liqnya (catatan kaki sebagai penjelas) atas ucapan para ulama’ yang ia cantumkan dan menafsirkan ucapan mereka tidak pada mestinya. Sebagaimana pada halaman 108 catatan kaki no.1, hal.109 footnote no.21, dan hal.110 footnote.2
  6. Sebagaimana pula dalam kitab tersebut ada sikap peremehan dari berhukum kepada selain Allah, terkhusus pada hal.5 footnote.1, dengan alasan bahwa mementingkan merealisasikan tauhid dalam permasalahan ini ada sifat tasyabbuh kepada orang-orang syi’ah -rafidhah-. Ini adalah kekeliruan yang fatal.
  7. dan setelah mendalami tulisan kedua Shaihatu Nadzir didapati bahwa ia bagaikan musnad bagi kitab yang telah disebutkan, dan keadaannya keduanya telah disebutkan (atau seperti yang disebutkan).

Maka Lajnah Daimah memandang bahwa kedua kitab tersebut tidak boleh dicetak dan disebarkan, tidak boleh pula diedarkan dikarenakan didalamnya terdapat kebathilan dan penyimpangan.”

Demikianlah saudaraku pembaca keadaan kitab Ali Hasan Al-Halabi, ini ia tulis bertahun-tahun lalu. Dan karyanya yang sekarang tidak jauh berbeda dengan yang dahulu….

Jangan terkeco dengan keilmuan, hafalan, dan karya tulisnya…. Patokannya bukanlah ia punya karya tulis yang banyak atau punya hafalan yang kuat. Tetapi, sesuaikah aqidah, manhaj, dan amalannya dengan aqidah salafush shalih?

Sebagai penutup, Lajnah Daimah memberikan nasehat kepada Ali Hasan Al-Halabi dengan nasehat seorang ayah kepada anaknya.

“Dan kami menasehati penulis dua buku itu untuk betaqwa kepada Allah pada dirinya dan pada kaum muslimin. Terkhusus para pemudanya.

Dan agar ia bersungguh-sungguh dalam menimbah ilmu syar’i dari para ulama’ yang terpercaya keilmuan dan kebaikan aqidahnya. Dan bahwa ilmu adalah amanah sehingga tidak boleh disebarkan kecuali yang mencocoki Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dan agar ia membersihkan dirinya dari keyakinan-keyakinan  seperti ini dan (membersihkan dirinya) dari maslak yang dungu dalam melencengkan ucapan ahlul ilmi.

Dan sudah maklum bahwa kembali kepada al-haq adalah keutamaan dan kemuliaan bagi seorang muslim. wallahul muwaffiq.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء .

Anggota: Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan

Anggota: Bakr bin Abdullah Abu Zaid

Anggota: Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh

—————————————————

Demikian, semoga dapat diambil pelajarannya.

Tentang Ali Hasan, Insya Allah masih berlanjut…. Ikuti terus pernyataan ulama’ kibar lainnya di pertemuan mendatang

Diterjemahkan sebisanya dari fatwa Lanjah Daimah, simpan versi arabnya

[ DOWNLOAD ]

13 thoughts on “Nasehat dan Tahdzir Lajnah Daimah lil Ifta’ (Komite Fatwa) Arab Saudi kepada Ali Hasan Al-Halabi

  1. PENDAPAT IMAM DAN KHATIB MASJID NABAWI DAN JUGA HAKIM MAHKAMAH TINGGI SYARI’AT DI MADINAH

    Oleh
    Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh

    Pertanyaan.
    Syaikh Hussain bin Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh (Imaam dan Khathib Masjid Nabawi, Madinah, dan juga Hakim Mahkamah Tinggi Syari’ah di Madinah) ditanya pada tanggal 5 Rabi’ul-Awwal 1422 H, selama konferensi QSS (Quran Sunnah Society) yang diadakan di Chicago, Illinois, dengan pertanyaan berikut: “Fadhilatusy-Syaikh – semoga Allaah memberikan balasan kepada Anda –apa pandangan Anda mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah berkenaan dengan dua kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali [Hasan al-Halabi], “at-Tahdziir” dan “Shaihatu Nadziir”, di mana keduanya menyerukan kepada madzhab Al-Irja’ yang mana perbuatan itu bukanlah termasuk kesempurnaan iman, sementara mengingat kembali bahwa kitab ini bahkan tidak memuat pembahasan mengenai persoalan akan syarat sahnya atau syarat sempurnanya iman? Juga sudahkah Al-Lajnah membaca kitab-kitab Syaikh Ali tersebut atau cukupkah dengan pandangan atau penyelidikan orang lain? Jazaakumullahu khairan.

    Jawaban
    Pertama-tama, wahai saudaraku! Syaikh Ali dan Syaikh-syaikh yang lain (dari Al-Lajnah) adalah dalam kesatuan dan kesesuaian. Dan Syaikh Ali adalah ikhwah senior dan dituakan, dari kebanyakan Masyaayikh, yang telah mengeluarkan putusan tersebut. Dan beliau mengenal mereka dan mereka pun mengenal beliau, dan mereka saling mencintai. Dan Syaikh Ali sungguh telah diberikan – Alhamdulillah – ilmu dan bashiirah yang memungkinkan beliau benar-benar menghadapi masalah yang terjadi antara beliau dengan Masyayaikh ini dengan berlandaskan ilmu, dan kebenaran akan hal ini sedang dijernihkan.

    Mengenai Syaikh Ali dan guru beliau, Syaikh al-Albaani – semoga Allah memberikah rahmat kepadanya dengan rahmat yang luas, maka mereka adalah orang-orang yang berada di atas manhaj As-Sunnah dan tidak ada keraguan mengenai mereka, bahwa mereka berada di atas manhaj yang sesuai dan menyenangkan, Alhamdulillah.

    Dan Syaikh Ali merupakan di antara orang-orang yang membela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jamaaah – Alhamdulillah. Fatwa tersebut (dari Lajnah Daaimah)tidaklah menyatakan bahwa Syaikh (Ali) adalah seorang Murji (penganut faham Murjiah) – Allaah melarang untuk menyatakan seperti itu. Lebih dari itu, fatwa tersebut membantah Syaikh Ali berkenaan denganapa yang ada di dalam kitab(Syaikh Ali), dan juga menggugatnya berkaitan dengan hal ini.

    Dan banyak orang yang berharap akan memperoleh hasil dari gugatan fatwa ini yakni vonis/keputusan atas Syaikh Ali bahwa beliau adalah seorang Murji. Selama ini saya belum memahami akan hal ini dan saya juga berfikir bahwa saudara-saudara saya (para Masyayaikh) tidak memahami hal ini (harapan orang akan putusan tersebut). Dan ini (yakni fatwa ini) tidak merubah apa yang ada di antara Syaikh Ali dan para Masyayaikh tersebut (yakni saling mencintai dan menghormati). Karena mereka (para Masyaayaikh Al-Lajnah Ad-Daaimah) menghormati dan memuliakan beliau (Syaikh Ali).

    Dan Syaikh Ali telah menulis jawaban ilmiah terhadap mereka “al- Ajwibat al-Mutalaaimah `alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Daaimah”, yang sesuai dengan apa yang Salaf Hadzihil Ummah (Pendahulu Umat Ini) berada di atasnya, yang mana tidak ada seorangpun di antara kita kecuali bahwa ia seorang yang mengambil atau memberikan (ucapan) dan setiap orang dapat diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali penghuni kubur ini, yakni Rasulullah (Shallallaahu alaihi wa sallam) – sebagaimana telah dikatakan oleh Asy-Syafi’i atau Imaam Maalik:

    “Segala perkataan dapat diambil dan dapat ditolak, kecuali apa yang datang dari Rasulullah”

    Dan saya menganggap bahwa Syaikh Ali akan setuju denganku bahwa Lajnah (Daimah) tidak mengatakan – sebagaimana yang sering dinyatakan mengenainya (yakni Syaikh Ali) bahwa Syaikh Ali adalah seorang Murji’ (penganut faham Murjiah)! Tidak sama sekali. Mereka (Lajnah Daimah) tidaklah mengatakan hal ini. Mereka hanya menggugat apa yang ada di dalam buku tersebut! Dan untuk apakah jenis penggugatan di antara para Salaf ini, tidak lain untuk kecintaan akan ilmu As-Sunnah dan untuk menjaganya. Lebih lagi, perselisihan ini hanya mengenai sebagian kecil dari buku tersebut.

    Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziiz Aalu asy-Syaikh adalah di antara orang- rang yang mencintai Syaikh Ali – dan saya mengetahuinya – dan beliau menghormatinya dan juga berdo’a baginya, dan bahkan setelah Syaikh Ali bertemu dengan Samahatusy-Syaikh.

    Apabila orang menerima fatwa ini dan kemudian bergembira dengannya –karena sesuai dengan mereka – dan mereka tidak menerima apa yang idak bersesuaian dengan mereka, maka ini adalah cara Ahlul-Bid’ah.

    [Disalin dari tanya jawab dalam konferensi QSS (Quran Sunnah Society) pada tanggal 5 Rabi’ul-Awwal 1422 H, yang diadakan di Chicago, Illinois, diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia oleh her_tris@yahoo.com]

    [ admin ]
    Thayyib, jawaban Syaikh Husein Alu Syaikh itu setahun setelah munculnya fatwa Lajnah. Ketika itu, memang para ulama’ masih berusaha untuk menasehati berbagai ketergelinciran Ali Al-Halabi, bukan hanya lajnah, Syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad Hadi, Syaikh Ahmad An-Najmi, semua mereka terus berusaha untuk menasehati Al-Halabi, tetapi apakah Al-Halabi mau menerima? barakallahu fiik…
    Bukan menerima, ia malah menulis sebuah buku yang menurut dia adalah bantahan untuk fatwa lajnah…. la haula wala quwwata illa billah…

    Thayyib, Syaikh Shalih As-Suhaimi ketika ditanya mana yang benar, al-halabi ataukah lajnah? beliau menjawab, kebenaran bersama lajnah.” bahkan beliau menekankan bahwa Al-Halabi, “Keliru, keliru, keliru, keliru 1000 kali.”
    Ucapan ini muncul beberapa tahun lalu, dan ketika itu beliau memang tidak mentabdi’ dia sebagaimana para ulama’ lainnya….

    Kemudian, berkaitan dengan jawaban Syaikh Husein Alu Syaikh, yang beliau tekankan disitu adalah tidak adanya vonis dari lajnah bahwa Al-Halabi adalah mubtadi’ yang harus di jauhi. Apakah Syaikh Husein menjelaskan mana dari keduanya yang benar???? Barakallahu fiik.

    Para ulama semua, insya Allah memahami bahwa kebenaran bersama lajnah, walaupun Al-Halabi berusaha membela diri. wallahu a’lam

    Memang begitu lah Al-Halabi, setiap ada nasehat dari para ulama’ kibar ia berusaha untuk membela dirinya dan yang memprihatinkan bagaimana para pengikutnya juga buta akan hal ini. Anda dapat melihat sikap arogan pengikut al-halabi di forum mereka Kull Salafiyyin…. Pembelaan membabi buta hingga menginjak-injak harga diri para ulama’. La haula walla quwwata illa billah.

    Suka

  2. Dikatakan oleh beliau:

    ” Apabila orang menerima fatwa ini, kemudian merasa gembira dengannya –karena sesuai dengan mereka–, dan mereka tidak menerima apa-apa yang tidak bersesuaian dengan mereka, MAKA INI ADALAH CARA AHLI BID’AH. ”

    Duhai, betapa sesuainya ucapan beliau ini dengan keadaan beberapak “kelompok” Salafiyyin belakangan ini.
    Dahulu, Syaikh al-Imam Ibnu Baaz membantah pemikiran DR. Salman al-‘Audah dengan bantahan ilmiah, kuat, dan beradab.
    Namun kini, DR. Ahmad Bazmul diikuti Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi membantah pemikiran Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dengan bantahan membabi-buta, lemah, minus adab. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

    Kami menunggu jawaban ilmiah, kuat, dan beradab untuk menanggapi pemikiran Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi, yang dengan itu menjadikan kami berhenti dari membaca kitab-kitab beliau, seperti:
    – Tahqiq ad-Daa’ wad Dawaa’.
    – Ta’liiq Raudhatun Nadhiir bi Tahqiiq al-Albani.
    – At-Tashfiyah wat Tarbiyah, juga
    – Manhajus Salafis Shalih fii Tarjiihil Mashaalih wa Tathwiihil Mafaasid wal Maqaabih fin Naqd wan Nashaa-ih

    Ya Alloh, kami rindukan sikap-sikap Imam Ibnu Baaz, Imam Nashir al-Albani, dan Imam Ibnu ‘Utsaimin yang tetap menjaga ILMIAH, KUAT, DAN BERADAB dalam membantah tokoh-tokoh Ahli Bid’ah di zaman mereka, seperti Al-Maliki, ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, Salman al-‘Audah, dan lainnya. BUKAN “sikap” Prof. DR. Rabi’ ibnu Hadi yang MEMBABI-BUTA, LEMAH, MINUS ADAB dalam membantah DR. Muhammad Hassan, Abu Ishaq al-Huwaini, Abul Hasan Musthafa al-Ma’ribi, juga ‘Ali Hasan al-Halabi. Padahal mereka selalu menyeru kepada PEMAHAMAN SALAF, dan mereka membenci dan dibenci Ahli Bid’ah. Laa haula walaa quwwata illa billaah.

    Mengapa setiap PUTIH maka berarti HITAM!!! Sebaliknya, yang selalu mengikuti yang PUTIH maka ia tergolong PUTIH meskipun padanya banyak noda-noda HITAM.

    “…HENDAKLAH KALIAN BERSIKAP ADIL..! KARENA SIKAP ADIL LEBIH DEKAT KEPADA TAQWA…”

    —admin—
    Sebenarnya jika kita dari dulu terus mengikuti perjalanan dakwah pasti tidak akan berkomentar seperti ini. Cobalah renungkan kembali bantahan Syaikh Ahmad Bazmul dan Syaikh Rabi’ beserta alasan-alasan keduanya. Dan, kebih dari itu, lajnah daimah, Syaikh Luhaidan, dan ulama’ kibar lainnya juga sudah memperingatkan umat dari Ali Hasan Al-Halabi. Dan anda lihat, ketika itu syaikh Rabi’ beliau berkomentar seperti para ulama’ kibar lainnya berkomentar! Karena memang beliau terus berusaha untuk menasehati Ali Hasan.
    Tetapi, terjatuh dalam kekeliruan terus menimpa diri Ali Hasan. Sehingga, setelah bertahun-tahun lamanya syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad Hadi, dan yang lainnya terus menasehati Ali Hasan namun tiada hasil. Ini menunjukkan bahwa Ali Hasan tidak menginginkan nasehat ulama’ kibar, maka dengan itu manhaj harus ditegakkan, dan kewajiban merekalah memperingatkan umat dari kekeliruan-kekeriuan Ali Hasan Al-Halabi.

    Kemudian, ucapan anda bahwa Syaikh Rabi’ dan Syaikh Ahmad membabi buta, saya yakin pasti anda tidak mampu mempertanggung jawabkan ucapan anda ini. Seandainya anda mengklaim seperti itu, padahal keduanya termasuk ulama’ yang terakhir mengangkat suara tentang ali Hasan, maka bagaimana dengan ulama’ kibar sebelum beliau. Apakah anda akan juga mengatakan bahwa semua ulama’ itu membabi buta? Demi membela Ali Hasan dan Karyanya!! Perhatikan dan renungkanlah. Barakallahu fiik

    Suka

    • Mengapa setiap yang “tidak” PUTIH maka berarti HITAM!!!?

      Sebaliknya, mengapa yang selalu mengikuti yang PUTIH maka ia jadi tergolong PUTIH meskipun padanya banyak noda-noda HITAM!!!?

      Wallaahul Musta’aan.

      Suka

  3. Masya Allah..
    Sibukkanlah diri kita dengan menuntut ilmu dien ya akhi.. Banyak waktu kita terbuang karena hal-hal yang nati kita akan menyesalinya di akhirat.. Kenapa kita tidak gunakan waktu dg sebaik-baiknya.. Bacalah Al-Qur’an, Hafalkan matan-matan ilmiyyah bukanlah itu lebih baik ya akhi..
    Semola Alloh memudahkan diri ini di dalam menetapi kebenaran dan mendekatkan kita kepada sifat rendah hati dan santun..

    —admin—
    Pertama, tentunya menulis perkara manhaj seperti ini tidaklah menjadikan kita meninggalkan tholabul ilmu, membaca al-qur’an, dan menghafal matan-matan. Mengurusi perkara manhaj adalah kewajiban kita, selain juga menuntut ilmu. Karena dengannya kita akan terselamatkan dari penyimpangan dan penyelewengan..
    Mungkin sikap seperti yang disebutkan oleh saudara ibnu hadi diatas lah yang membuat sebagian saudara-saudara kita tidak memahami permasalahan yang terjadi dikalangan para ulama’. Sehingga mereka merasa kebinungan, karena menurut mereka, tidak boleh ikut campur dalam permasalahan fitnah, kita harus ‘menyibukkan diri’ dengan menuntut ilmu.
    Padahal, diantara manhaj ahlus-sunnah adalah wajib untuk membantah ahlul bid’ah. Atas dasar ini, menuntut ilmu tidak boleh menghalangi seseorang untuk membantah ahlul bid’ah -tentunya dibawah bimbingan ulama’-. Dan membantah ahlul bid’ah tidak boleh menghalangi seseorang untuk terus menuntut ilmu. Wallahu a’lam

    Suka

  4. Saudara danang, andaikan para ulama itu “minus adab” tidak seharusnya anda komentar secara “minus adab”. Ringkasnya tinjau kembali ucapan anda ((Namun kini, DR. Ahmad Bazmul diikuti Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi membantah pemikiran Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dengan bantahan membabi-buta, lemah, minus adab)).

    Suka

  5. Saudara danang, andaikan para ulama itu “minus adab” tidak seharusnya anda komentar secara “minus adab”. Ringkasnya tinjau kembali ucapan anda ((Namun kini, DR. Ahmad Bazmul diikuti Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi membantah pemikiran Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dengan bantahan membabi-buta, lemah, minus adab)) dengan meminta nasehat dulu !!

    Suka

  6. Ustadz Dzulqornain menceritakan, bahwa suatu ketika ada seorang penuntut ilmu membawa seorang saudaranya -dimana didaerahnya Syaikh Robi sangat dibenci dan dimusuhi- datang ke Syaikh Robi’. Maka saudaranya ini merasa takjub dengan sikap, tawadhu dan adab yang ada pada diri Syaikh. Maka diapun bertanya kepada saudaranya tsb: “Siapakah Syaikh ini?” Maka saudaranya yg penuntut ilmu itu menjawab: “Dia Syaikh Robi’..”
    Maka dia berkata: ‘Masya Allah, orang dengan adab dan akhlaq yang seperti ini tidak layak untuk di benci dan di musuhi.”

    —-admin—
    Tamam, masya Allah…

    Suka

    • Afwan bertakwalah engkau saudaraku tentang ucapanmu “minus adab” lihatlah pujian syaikh al-albani kepada syaikh robi”..,samakah engkau dengan kedudukan syaikh al-albani

      Suka

        • Assalamu’alaikum warahmatullah,, ada beberapa hal yang perlu kami luruskan:
          Pertama: Sungguh kami tidak pernah merasa gembira dengan hilangnya ulama atau yang berilmu. Kami bersedih jika ada ulama’ yang berjalan tidak dijalannya para ulama’ besar.. akan tetapi sebagaimana diucapkan oleh ulama, Kebenaran lebih kami cintai dari semuanya.”

          Kedua: Tidak ada yang meragukan keilmuan syaikh Ali Hasan Al-Halabi, karya tulisny menunjukkan hal itu. Tetapi ada pertanyaan yang harus kita jwab bersama, apakah kelebihan yang ada pada beliau membuat beliau makshum? membuat beliau terjamin di atas jalan yg benar? Jika jawabannya adalah iya, maka adakah orang yang ma’shum selain Rasulullah ?, Tapi jika jawabannya tidak, maka kita harus siap dengan konsukensinya.

          Dan perlu diketahui bahwa Ali Hasan bukanlah orang pertama, telah berlalu orang-orang sebelumnya yang lebih shalih dan lebih bertakwa yang tergelincir dari al-haq, dan itu tidak membuat ulama’ dia, krn kebenaran lbh mrk cintai dari yang lainnya..

          Ketiga: Perlu diketahui pula bahwa ulama’ yang mentahdzir Ali Hasan adalah orang lbh yang bertakwa, lebih tua, dan lebih berilmu. Mereka tidaklah berbicara dengan hawa nafsu, mrk juga sedih ketika ada saudaranya yg melenceng, sebagai bukti adalah nasehat yang sabar selama bertahun-tahun hanya untuk seorang Ali Hasan Al-Halabi, tetapi sayang, kebaikan ulama’ tdk dibalas dgn semestiny oleh Ali Hasan, berbagai ucapannya menunjukkan hal itu.

          terakhir, sebagai pertanyaan yang harus dijawab bersama, ketika para ulama’ tlh menjelaskan kesalahan Ali Hasan dengan bukti yang valid, apakah kita masih membela kesalahan tersebut? Allahu yahdina ila Sabili ar-rasyad.

          Suka

          • Justru karena syaikh Ali bukanlah seorang yg maksum, bahkan para sahabat khulafaur rashidin-pun bukan orang yg maksum. Seperti komentar di atas “apakah yg tidak putih (“tidak pernah melenceng”), lantas mereka hitam ?, lantas apakah antum yg mengikuti yang putih (tidak pernah melenceng) lalu di sebut putih ?. Bukan kapasitas antum mentahdzir beliau. Bahkan seharus beri udzur, beri udzur, beri udzur, beri udzur dan beri udzur. Apalagi beliau seorang ‘Ulama, dan begitulah seharusnya yg dilakukan sesama Muslim yg bersaudara. Bhakan Lajnah daimah-pun tidak maksum.

            Saya bukannya membela syaikh Ali, tapi seharusnya ini jadi bahan konsumsi publik yg beraneka ragam taraf ke’Ilmuannya. Apalagi sampe mencap beliau seorang murji’ah.
            Sent from BlackBerry® on 3

            Suka

            • assalamu’alaikum mas ari,, kapasitas beliau sebagai seorang alim memang tidak patut untuk dikritik oleh seorang yang masih kecil,, anggap saja ucapan ini benar (walaupun tidak mutlak).. tapi perlu dibaca lagi, bahwa tahdziran ini berasal dari ulama’ besar, bahkan dari sekumpulan ulama seperti lajnah daimah yang secara umur, ilmu, dan wawasan jauh lbh tinggi dari ali al-halabi…

              Kemudian, kami tidak mencap beliau murji’ah, hanyasaja dalam bbrp bukunya yang dibantah komite fatwa arab saudi ada bbrp keyakinan murjiah, smg bisa dibedakan…

              mencukupkan diri dengan pendapat ulama besar adalah berkah…

              Suka

  7. Kok jadi ga pake dalil malah pake hitam putih seperti ilmul kalam,

    setau ana wallahua’lam, tidak ada ulama yang pake hitam putih beginian untuk menjawab apakah seseorang atau bahkan sekelas shohabat yang tidak mengikuti perang, dijauhi (untuk sementara, sampai kembali kepada Asalnya),

    jawabannya akan menjadi tidak terarah kepada maksud apa? jika bertanya apakah jika tidak PUTIH selalu Hitam?, setiap masing-masingnya akan menjawab bisa jadi biru, merah, ungu, kuning, dan lain-lain,.

    Bukankah dalam Al-Quran, hanya ada Al-Haq dan Al-Bathil dan hanya ada Sunnah dan Bid’ah? ( Sunnah bukan dalam definisi fiqih ).

    Harusnya, sikap kita itu adalah melihat, bahwa, apa yang para Ulama, lihat, katakan, sampaikan, fatwakan, fahami, sangatlah berbeda dengan apabila kita yang melihat, katakan, fahami, sampaikan….

    lalu bagaimana mungkin kemudian, kita bisa bersikap congkak setelah sebelumnya kita yaqin bahwa Ulama tersebut lebih terpercaya keilmuannya, lebih terpercaya fatwanya, bahkan ada pula yang

    “KITA AMBIL SEBAGAI PENGUAT BOLEHNYA VIDEO” (katanya).

    subhanallah, kita justru menuntut terlalu banyak kepada Ulamaa’, dalam keadaan tidak melihat siapa diri kita ini? Bahkan berkata kata tidak baik, tidar beradab, terutama pada lisan.

    Jika ada Ulama, yang menggunakan kalimat-kalimat pedas, itu dikarenakan, yang sedang diperbincangkan adalah orang/ustadz/syaikh yang memang perlu untuk disampaikan kepadanya hal tersebut. Ketika kalimat-kalimat tenang dan lembut tidak mampu untuk menasehatinya.

    Sebagaimana Rosul, pun menegur sahabatnya dengan keras tatkala melihat sahabatnya mengenakan cincin dari emas…

    Seberapa banyak kita membaca fatawa Ulama yang KITA ANGGAP cara berfatwa atau membantah kekeliruan, dengan cara yang lembut? Seberapa banyak?,

    Padahal disamping itu, merekapun mengucapkan kalimat kalimat haq, yang mungkin menurut kita pedas, namun ini al-haq.

    Demikian para ulama, ketika perlu lembut lembut, ketika keras keras, mereka jauh jauh jauh lebih paham, dari pada kita kita ini. Terlebih dalam perkara perkara syubhah, lebih-lebih dalam permasalahan aqidah, iya permasalahan aqidah.

    apalagi kita tau, orang yang sedang diperbincangkan tersebut salah, lantas jangan kemdian kita (karena tidak senang dengan kritakan ulama kepada tokoh kita), kita berbicara2 yang kemudian banyak melencengnya akhirnya, nashihat / kritikan ulama tidak mampu memberi faidah kepada kita sama sekali, justru menjatuhkan kredibilitas ulama, baik secara langsung atau tidak langsung….

    lalu, kita mengatakan bukankan orang yang dikritik itu MASIH menyampaikan PEMAHAMAN SALAF,, kalau kita mau berpikir, bukankah kalimah MASIH ini, adalah bermakna, bahkan mereka membenci Ahlul Bidah, dan Ahlul bidah membenci mereka.

    DISAMPING MEMILIKI PEMIKIRAN YANG MENYIMPANG DAN KOKOH DENGAN PEMIKIRANNYA SAMPAI SEKARANG, juga menyampaikan PEMAHAMAN SALAF?

    (PROSES yang BERSAMAAN, ATAU SALING BERGANTIAN)

    KITA TANYA PADA DIRI KITA, APAKAH KESALAHAN YANG KITA AKUI (MISAL: PAHAM MURJIAH) YANG ADA PADA ORANG/USTADZ/SYAIKH, ADALAH PEMHAMAN SALAF JUGA ATAU BUKAN? JIKA KITA JAWAB YA, maka kita itu ZHALIM,

    Kemudian bukan berarti, orang yang dibenci oleh Ahlul bidah itu adalah Ahlussunnah!

    Misal, sufi pun membenci dan memushui kelompok khowarij,

    Ana, tidak keberatan meninggalkan kitab ad-daa’ wad dawaa’ yang terdapat tahqiq Syaikh Ali padahal sudah tiga tahun mengkajinya, namun tetap membaca matan dari kitab tersebut. karena bimbingan ulama, baik lembut ataupun keras kepada ana atau siapapun merupkan ilmu yang tidak ana

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s